"Mah ayo beli oleh-oleh buat keluarga di rumah." Kata seorang anak kepada ibunya dalam bahasa Inggris, pada suatu toko suvernir di Akihabara, Tokyo. Sudah biasa rasanya, budaya memberi oleh-oleh saat kita pergi ke suatu tempat. Memang tidak ada aturan tertulisnya, tapi seakan hal itu menjadi wajib seketika.
Tampilkan postingan dengan label Writing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Writing. Tampilkan semua postingan
Kita, Kehilangan?
“Sabar ya, turut berduka atas hilangnya laptopmu, aku turut sedih atas kehilanganmu”. Sederet kalimat tersebut muncul di layar smartphoneku. Aku membatin “Oh laptop si A hilang, Innalillahi”. Aku mengcopypaste kan kalimat turut berduka teman di paling bawah halaman percakapan saking malasnya. Tiba-tiba, terbesit sebuah pertanyaan.
Lha, memang manusia pernah punya apa? Kenapa manusia merasakan kehilangan? Kuadukan kebingunanku pada rona malam.
Lha, memang manusia pernah punya apa? Kenapa manusia merasakan kehilangan? Kuadukan kebingunanku pada rona malam.
Sadarlah, Aktivis Dunia!
Sering sekali. Hati manusia terbias, seperti cakrawala memantulkan bayangan matahari. Terpaku pada harta, kesibukan, sampai kemewahan. Bagaikan tercekik rantai yang menyihir pada kecintaan dunia ini. Wahn, cinta dunia dan takut akan mati. Ikhtiar semu di jalan orientasi tanpa visi. Itulah aktivis dunia. Kedaruratan iman yang harus selalu dihindari. Kembali, Allah memberiku secercah motivasi, untuk lebih mengikat keimanan di dalam hati, yang akan kukisahkan sedikit disini.
Pagi itu, aku ber Car Free Day. Tak ada yang spesial. Stand – stand jualan, promosi sampai cek kesehatan berbaris rapi sepanjang jalan.
Pagi itu, aku ber Car Free Day. Tak ada yang spesial. Stand – stand jualan, promosi sampai cek kesehatan berbaris rapi sepanjang jalan.
Langganan:
Postingan (Atom)


